Program Unggulan Dana Guru Ngaji, Menjawab Kondisi Konkret di Masyarakat

INDOPOS.CO.ID – Setiap hari Ning, seorang guru ngaji di masjid di bilangan Bogor tekun mengajar siswanya untuk mengaji. Ditemui INDOPOS.CO.ID, ia menuturkan, penghasilan mengajar ngaji tak cukup untuk kebutuhan sehari-hari.

“Kami ikhlas mengajar sih. Selama ini kami hanya mendapat imbalan seikhlasnya dari orangtua siswa,” kata Ning, Minggu (24/12/2023).

Ia menyebut, imbalan tersebut jumlah sangat kecil. Setiap siswa dalam satu tahun hanya dibebankan iuran Rp240 ribu. “Kalau dibilang cukup ya tentu tidak cukup. Kami berharap ada perhatian dari Presiden Ganjar-Mahfud bila terpilih nanti,” ucapnya.

“Kami sangat mendukung program dana guru ngaji,” imbuhnya.

Hal yang sama diungkapkan, Pengamat Pendidikan Islam (Pendis) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jejen. Ia mengatakan, gaji guru ngaji di pondok pesantren (Ponpes) sangat kecil. Apalagi sumber dananya berasal dari masyarakat.

“Gaji guru ngaji kecil. Kenapa? Karena Ponpes swasta dan sumber dananya dari masyarakat,” katanya.

Ia berharap pemerintah tidak lepas tangan dengan kondisi tersebut. Selain itu juga pemerintah harus memperhatikan sarana dan prasarana (infrastruktur). “Ini agar guru ngaji menjadi nyaman dalam menjalankan tugasnya,” katanya.

“Kesejahteraan guru pintu profesionalitas dalam mengajar dan mendidik. Tapi ada faktor lainnya yaitu semangat pengabdian dan religiusitas dalam mengajar,” imbuhnya.

Kondisi kesejahteraan guru ngaji menjadi perhatian dari Calon Wakil Presiden (Cawapres) nomor urut 3 Mahfud MD. Ia mengangkat program unggulan Dana Guru Ngaji, pada kampanye perdana beberapa waktu lalu. Saat ini, menurut dia, ada jutaan guru ngaji mendapatkan gaji di bawah standar.

Apresiasi terhadap mereka, lanjut Mahfud, masih jauh dari harapan. Padahal, mereka memikul beban sebagai penjaga moral dan membantu pembentukan karakter anak bangsa.

Sebagai negara dengan populasi muslim terbesar di dunia, (240 juta orang), Indonesia memiliki jutaan guru ngaji. “Peran mereka sangat besar dalam membentuk karakter dan moral anak bangsa,” ujar Mahfud MD.

Baca Juga  Putri Ariani Juara 4 AGT 2023, Simon Cowell Tetap Beri Sanjungan

Akan tetapi, lanjut Mahfud, peran guru ngaji tersebut tidak diimbangi kesejahteraan. Sebuah survei yang dibuat oleh Kementerian Agama (Kemenag) memperlihatkan 65 persen guru ngaji menerima honor di bawah Rp2 juta.

Sejauh ini, pemerintah Jawa Tengah telah memiliki program insentif untuk para guru ngaji dan pengajar agama lain. Pada masa pemerintahan Ganjar Pranowo, pemerintah Jateng menghibahkan Rp1 triliun untuk insentif guru ngaji dan pendidik agama lainnya.

Selain untuk insentif, dana itu juga untuk membayar iuran BPJS mereka. Pasangan Ganjar-Mahfud akan menjadikan Jawa Tengah sebagai model. (nas)

Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *